Showing posts with label Pendidikan Kewarganegaraan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Kewarganegaraan. Show all posts

Thursday, May 1, 2014

Earth Hour

Seperti yang sudah dijelaskan pada postingan sebelumnya, pemanasan global semakin memperparah keadaan yang ada di bumi. Bahkan beberapa peneliti meramalkan bahwa beberapa daratan akan tenggelam kurang dari 100 tahun mendatang. Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk memperlambat proses dari pemanasan global ini? Tentunya ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperlambat proses dari pemanasan global ini, salah satunya adalah dengan menerapkan konsep Earth Hour. 

Sumber Gambar : 60+ Earth Hour

      Earth Hour adalah kegiatan peduli pada lingkungan yang dipelopori oleh organisasi WWF (World Wide Fund Of Nature) Australia yang di mulai pada tahun 2007 dan diadakan pada hari sabtu terakhir di bulan Maret setiap tahunnya. Saat Earth Hour tiba, seluruh warga dunia serentak memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak diperlukan sejak pukul 20:30 hingga 21:30 waktu setempat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim serta mengurangi konsumsi listrik.

Tugas Pendidikan Kewarganegaraan (Wawasan Nusantara)

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
WAWASAN NUSANTARA

 
Disusun oleh :

Kelompok 1

                          Ketua     :        Erza Riani                                       /32413980
                          Anggota  :   1. Ade Frima                                        /30413132
               2. Elyas Tanta                                    /32413890
               3. Farhan Gunawan                            /33413241
                4. Fikri Nugraha Bhakti                      /33413464
                     5. Julian Adhi Wicaksono                   /34413718
                                              6. Muhammad Rukmansyah                /36413135
               7. Siddiq Arrahman                             /38413469
                8. Valentinus Donna Ariyanto              /39413803
               9. Yoga Pria Nugraha                         /39413460

                    Jurusan Teknik Industri
         Fakultas Teknologi Industri
            Universitas Gunadarma
                                                  Depok
                                                   2014


Thursday, April 24, 2014

Pemanasan Global

Semakin hari, alam sudah tidak lagi bersahabat. Seperti bulan ini, musim yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau, namun hujan masih tetap setia membasahi bumi. Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan, tanah longsor, dan banjir yang melanda dengan proporsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan iklim seperti ini adalah suatu dampak dari pemanasan global atau global warming. Pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat sekitar 0.18 derajat celcius selama seratus tahun terakhir. 



Peningkatan suhu rata-rata global disebabkan oleh banyak faktor. Kotoran sapi perah melepaskan gas methan sebesar 56 kilogram perekor selama satu tahun. Penggunaan pupuk kimia dalam pertanian, akan menyumbang dinitrogen oksida ke udara. Pembakaran jerami hasil pertanian akan menghasilkan karbondioksida, gas methan dan dinitrogen oksida. Penebangan hutan yang menyebabkan hutan gundul, sehingga tidak mampu menyerap karbon dioksida di udara. Panas matahari yang dilepaskan ke bumi, sebagian radiasinya dipantulkan kembali ke udara dan sebagiannya lagi terserap bumi. Radiasi yang terperangkap oleh gas rumah kaca di atmosfer akan dipantulkan lagi ke bumi  yang menyebabkan meningkatnya suhu global. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global adalah disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Efek dari rumah kaca ini akan menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon sehingga sinar X tidak bisa lagi dibiaskan. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan lain seperti naiknya permukaan air laut karena mencairnya es yang ada di kutub utara dan selatan, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. 

Mengenal Ondel-Ondel, Simbol Budaya Jakarta

Boneka besar ini adalah salah satu ikon yang sangat melekat dengan masyarakat Jakarta. Hampir di setiap acara, mulai dari khitanan, perkawinan, peresmian, pawai, menyambut tamu tamu penting, sampai acara besar seperti ulang tahun Jakarta pun boneka besar ini tidak pernah ketinggalan untuk menambah semarak acara.
Konon, ondel-ondel telah ada sebelum Islam tersebar di Jawa. Para ahli memperkirakan ondel-ondel ada di Jakarta sejak berabad lalu. Seorang pedagang asal Inggris, W. Scot, mencatat dalam bukunya jenis boneka seperti ondel-ondel sudah ada tahun 1605. 
Bentuk Ondel-ondel adalah personifikasi dari leluhur masyarakat Betawi yang senantiasa menjaga keturunannya dari gangguan roh halus. Tidak heran kalau bentuk Ondel-ondel jaman dulu berkesan sangat menyeramkan. Sebab mitos inilah, orang Betawi jadi menganggap bahwa kekuatan ondel-ondel akan menjaga keselamatan kampung beserta isinya dari roh jahat dengan menampilkan ondel-ondel dalam upacara bersih desa atau sedekah bumi. 

Wednesday, April 23, 2014

Lima Taman Bumi Milik Indonesia

Geopark atau Taman Bumi adalah suatu konsep manajemen pengembangan kawasan wisata secara berkelanjutan yang memadukan tiga keragaman alam, yaitu geologi dan geomorfologi (Geodiversity), keragaman geologi nilai ilmiah (Geoheritage), dan konservasi Geodiversity (Geoconservation). Indonesia telah mengusulkan 33 kawasan Geopark, namun untuk saat ini hanya empat kawasan yang telah dinyatakan sebagai Taman Bumi Nasional oleh Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral dan Kementerian Ekonomi Kreatif dan satu kawasan yang telah dinyatakan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO)  pada tahun 2012 sebagai salah satu Geopark Dunia berlevel internasional. Berikut ini adalah rincian dari kelima kawasan tersebut:

Sumber : Batur Geopark 

Thursday, April 3, 2014

Mengenal Suku Anak Dalam Alias Orang Rimba

Indonesia memiliki berbagai macam kekayaan alam, keanekaragaman suku, dan budaya yang tersebar luas diseluruh penjuru wilayah. Namun, masih banyak masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa di Indonesia yang belum banyak tahu tentang potensi dan keberagaman suku dan budaya yang dimiliki negeri ini. Pada postingan kali ini, saya akan membahas tentang Suku Anak Dalam atau biasa dikenal dengan "Orang Rimba" yang bermukim di wilayah Provinsi Jambi. 

Suku Anak Dalam memiliki berbagai macam sebutan nama, seperti Kubu, suku Anak Dalam, dan Orang Rimba. Bagi suku Anak Dalam, kata "Kubu" memiliki arti yang negatif, yaitu menjijikan, kotor, dan bodoh. Panggilan kubu bagi suku anak dalam pertama kali terdapat di tulisan-tulisan pejabat kolonial. Sementara sebutan "suku Anak Dalam" merupakan sebutan yang diciptakan oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen Sosial. "Suku Anak Dalam" itu sendiri memiliki arti orang yang bermukim di pedalaman dan terbelakang. Sebutan yang lainnya adalah "Orang Rimba", merupakan sebutan yang lahir dari suku Anak Dalam itu sendiri. Arti "Orang Rimba" adalah orang yang hidup dan mengembangkan kebudayaan tidak terlepas dari hutan, tempat tinggal mereka.  Istilah orang Rimba dipublikasikan oleh seorang peneliti Muntholib Soetomo melalui disertasinya berjudul “Orang Rimbo: Kajian Struktural Fungsional masyarakat terasing di Makekal, provinsi Jambi”.

Sumber gambar : Anak Rimba

Prospek Kerja Lulusan Teknik Industri

Hampir semua siswa di SMA atau SMK mempunyai minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Sebagian orang memilih jurusan sesuai minat dan bakat yang dimiliki, namun tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi pengangguran karena jurusan tersebut tidak menjamin prospek kerja yang bagus untuk kedepannya. Ada pula yang memilih jurusan kuliah dengan mempertimbangkan prospek kerja yang terjamin untuk kedepannya, namun gagal bertahan karena jurusan tersebut tidak sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Lalu baiknya kita memilih jurusan yang seperti apa?



Dalam memilih jurusan, kita harus menyeimbangkan keduanya antara minat dan bakat, juga mempertimbangkan prospek kerja yang terjamin untuk kedepannya. Untuk hal ini, saya berpendapat jurusan teknik industri adalah jawabannya. 

Monday, March 31, 2014

Mengenal Kehidupan Suku Baduy

Suku Baduy adalah satu dari ratusan suku yang tersebar di Indonesia. Suku ini bermukim di wilayah Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Terdapat tiga kelompok masyarakat Baduy, yaitu Baduy Luar, Baduy dalam, dan Baduy Dangka.

Tanjidor, Kesenian Betawi yang Kian Terancam

Tanjidor adalah salah satu jenis musik Betawi yang mendapat pengaruh kuat dari musik Eropa. Kata "Tanjidor" itu sendiri berasal dari kata dalam bahasa Portugis “tangedor”, yang berarti "alat-alat musik berdawai (stringed instruments)". Tetapi dalam kenyataannya, ansambel Tanjidor terdiri dari alat-alat musik yang terdiri dari klarinet (tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum  (membranofon), simbal (perkusi), dan side drums (tambur). Jenis musik ini muncul pada abad ke-18 yang ketika itu dimainkan oleh 7 sampai dengan 10 orang,  untuk mengiringi perhelatan atau mengarak pengantin. Namun akhir-akhir ini, musik Tanjidor seringnya ditampilkan untuk menyambut tamu agung.


Sunday, March 30, 2014

Budaya Tenun Ikat Dayak Iban

Suku Iban merupakan salah satu sub Suku Dayak yang hidup di perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu dan Malaysia. Beberapa Suku Iban yang bermukim di wilayah Kecamatan Puring Kencana, Kecamatan Nanga Kantuk, Kecamatan Badai, Kecamatan Lanjak, dan Kecamatan Embaloh Hulu dikenal mempunyai pertalian darah dengan Suku Iban Malaysia. Dengan adanya pertalian darah itulah, hampir sebagian besar kaum pria Iban Indonesia merantai dan bekerja di Malaysia Sementara kaum wanita, orang tua dan anak-anak menetap di Indonesia. Suku Iban memiliki kekhasan budaya yang bisa dibedakan dari suku yang lainnya, salah satu tradisi khasnya adalah kain tenun ikat.

Dulu Suku Dayak Iban hanya mengenakan pakaian hasil tenunan atau olahan kulit kayu sendiri dan keterampilan menenun kain ikat ini menjadi syarat layaknya seorang remaja putri untuk memasuki gerbang pernikahan. Semakin melimpahnya kain dan baju jadi di pasar yang mudah dijangkau, mulai melunturkan nilai adat Suku Iban yang dulunya membuat sandang sendiri. Kini hanya Martha Sambong (46) seorang wanita dari Dusun Ngaung Keruh, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang mampu menenun di lingkungan betang (rumah panjang) itu. Keterampilan ini pun dia pelajari setelah usia 40 tahun.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...